Home / ARTIKEL / Panggilan Hidup Ugahari Gereja Injili di Tanah Jawa (GITJ) menuju Masa Depan yang Lebih Adil, Lestari dan Tangguh

Panggilan Hidup Ugahari Gereja Injili di Tanah Jawa (GITJ) menuju Masa Depan yang Lebih Adil, Lestari dan Tangguh

Oleh: Pdt. Herin Kahadijayanto, M.Th.

“PANGGILAN” merupakan istilah umum yang dipahami sebagai perutusan atau penugasan, bukan sebatas sapaan atau undangan. Bagi GITJ, panggilannya yaitu hidup selaras dengan kehendak Allah bagi dunia atau persekutuan orang-orang kokoh dan mengasihi Kristus dan menerangi dunia. Dalam konteks Indonesia yang juga mengalami “situasi gelap” karena ketimpangan sosial ekonomi masyarakatnya, banyak pribadi birokrat lembaga-lembaga negara yang menyalagunakan posisinya, berdampak pada kecenderungan merosotnya kohesi nasional dan kerusakan dalam banyak hal. Dalam situasi ini GITJ terpanggil untuk menggumuli penugasan yang dirumuskan dalam visi 2022-2027 sinode GITJ: “Gereja yang kreatif, inovatif dan tangguh di tengah perubahan zaman.” Visi ini menyiratkan harapan GITJ tetap dapat bermakna bagi dunia, dengan mengolah secara kreatif sumber daya, prasarana dan sarananya oleh para pemimpin yang menghamba seperti modelnya, yaitu Kristus. Sekitar 40.000 ribu anggota gereja agar (semoga) tetap terpelihara dalam persatuan atau persaudaraan yang solid, yang kebersamaannya itu tidak hanya ditumpukan pada ikatan sejarah, namun juga semangat, kepentingan dan tujuan bersama,  maka niscaya dapat mengalami kesejahteraan hidup menggereja dan bersinode yang berkeadilan, lestari dan tangguh.

            Pertanyaannya: Apa bentuk kreativitas dan inovasi yang dapat dihadirkan oleh anggota-anggota gereja GITJ secara sinodal sebagai kontribusi terhadap upaya solusi persoalan-persoalan global dunia, sementara persoalan-persoalan intern sinodal yang juga harus mendapat perhatian serius untuk diselesaikan? Penyediaan dana dari investor atau uang yang cukup besar, apakah itu merupakan solusinya? Barangkali ya, namun jejaring kerja sama kemitraan itu sinergitas dalam kesatuan arah hingga tercapai multiplikasi kapasitas dan kualitas pelayanan, karena itu bukan sekadar soal mencari modal finansial. Untuk itu, diperlukan sikap berani berjerih lelah bersama-sama untuk melangkah bersama dengan sehati sepikir dalam mengerjakan panggilan menghamba seperti Kristus yang setia sampai harus mati disalibkan. Diperlukan spiritualitas kenotik kerendahan hati dengan memandang kehidupan keseluruhan anggota jemaat lebih utama daripada kepentingan-kepentingan pribadi para penatua, gembala dan diaken gereja.

            Beberapa agenda pelayanan yang tidak dapat diabaikan terkait dengan kehidupan bersinode GITJ, di antaranya: Menyikapi situasi proyek-proyek pelayanan aras sinode yang belum dapat berdaya guna sebagaimana fungsinya hingga kini, mengerjakan secara serius pelayanan lembaga-lembaga pendidikan di lingkungan Sinode GITJ yang semakin terseok-seok menghadapi kompetisi dunia pendidikan yang tidak berpihak pada yang lemah, juga untuk membangun kesejahteraan hidup anggota gereja. Terhadap hal ini banyak orang berasumsi bahwa peningkatan ekonomi dan tersedianya dana yang cukup, diharapkan dapat menjadi sarana utama penyelesaian proyek-proyek besar yang ada dalam kehidupan bersama bersinode, maupun untuk kemajuan dan kesejahteraan/kemakmuran dalam kehidupan gereja-gereja se-sinode. Tersedianya dana, memang menjadi salah satu harapan bagi solusi jangka pendek, namun tentu diperlukan kemandirian menjaga kehidupan pelayanan bersama secara sinambung, lestari dan tangguh. Dengan demikian, kucuran dana bukan solusi kreatif maupun strategis bagi upaya penyelesaian persoalan kita dalam bersinode yang lebih adil, karena makin banyak anggotanya terlibat dan dapat merasakan makna kebersamaan hidup sebagai suatu keluarga besar GITJ.

            Untuk itu, kita perlu menggali kemungkinan lain, sebagai alternatif mengatasi kemelekatan terhadap materi dan popularitas gereja lokal akibat arus kapitalisme yang mengandalkan ketersediaan dan peningkatan sumber daya menjadi indikator kemakmuran dan kesuksesan, namun yang telah terbukti bukan sebuah solusi bersama untuk membangun kesejahteraan yang berkeadilan sosial dan pemeliharaan lingkungan alam, tempat kita hidup. Perubahan orientasi pelayanan menggereja yang bukan pada keuntungan finansial sebagai satu-satunya indikator kemajuan, melainkan keterlibatan seluruh anggota (akar rumput) dan distribusi sumber-sumber daya yang ada dengan menumbuhkan panggilan kohesi ekumenikal sebagai sesama anggota GITJ. Dalam ranah praksis hidup sehari-hari, misalnya dinyatakan dalam hidup ugahari, mengurangi dengan bijak pembelian barang, menyediakan makanan secara mandiri dengan mengoptimalkan halaman rumah, memedulikan pemeliharaan kesehatan pribadi dan lingkungan alam. Mengoptimalkan prilaku konsumsi secara efektif atau penghematan dengan bergaya hidup sederhana ini sebagai gerakan untuk menghimpun modal finansial mandiri yang dalam jangka panjang Sinode GITJ akan dapat memiliki dana abadi yang memadai, yang manfaat pengembangannya dapat digunakan peningkatkan pendidikan generasi muda anggota gereja, sehingga mampu mengarahkan hidup mereka pada sumber-sumber daya esensial.

            Pemikiran sederhana ini memang jauh dari mengarahkan kita pada upaya kreatif dan inovatif dalam memenuhi panggilan mulia Allah, malah terkesan tradisional dan konservatif, namun kiranya dapat membuat kita “bangun” dalam mengantisipasi masa depan GITJ yang berkeadilan, lestari dan tangguh, di tengah pusaran zaman yang semakin mengalami kompleksitas tantangan dan persoalannya. Salam

Penulis adalah Ketua STAKWW Pati dan Gembala Jemaat GITJ Kudus.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *