Home / EDITORIAL / Panggilan Kita

Panggilan Kita

PROFESI dan pekerjaan yang ditekuni atau dijalani oleh banyak orang cukup beragam, ada yang menjadi petani, pegawai negeri, pedagang, dokter, guru dan sebagainya, sesuai dengan latar belakang pendidikan, talentanya masing-masing atau meritokrasi. Melalui profesi ini orang dapat mengembangkan diri untuk mencapai tujuan hidupnya. Dengan profesi orang bisa pula mengaktualisasi diri, dalam rangka ikut serta membangun peradaban manusia di dunia ini sebagai bagian dari keluarga besar dunia. Dalam teori kebutuhan Abraham Maslow ada lima tingkatan kebutuhan manusia: Fisiologi, rasa aman, bersosial, penghargaan dan aktualisasi diri, sebagai puncak piramida. Jadi menjalani profesi dan pekerjaan tidak sekadar mencari mata pencaharian belaka.

Misi besar

Di balik profesi dan pekerjaan ada konsep hidup yang terbentang lebih luas, sejauh mata memandang, yaitu konsep panggilan, khususnya dalam konteks bergereja dan berorganisasi kegerejaan atau kekristenan. Panggilan ini memiliki makna yang lebih mendalam daripada sekadar profesi dan pekerjaan, apalagi hanya sekadar mencari nafkah. Di balik itu ada misi besar dari Tuhan yang diemban atau diamanatkan kepada orang yang mengembannya. Dalam kekristenan, setiap orang percaya mendapat panggilan untuk bekerja dan melayani yang meneladan kepada Kristus; mengasihi, berkorban dan setia. Memiliki sifat rendah hati yang mengabdi sebagai seorang hamba, namun tetap memiliki komitmen dan tanggung jawab yang tidak sedikit. Kita meneladan kepada Kristus, yang “mengambil rupa seorang hamba…” (Fil.2:7b).

Abraham dipanggil Tuhan, kelak menjadi bangsa yang besar dan olehnya banyak orang mendapat berkat (Kej. 3:10), Yusuf dipanggil untuk menjadi orang nomor dua di Mesir (Kej. 50:20), Musa memenuhi panggilan Tuhan untuk membimbing umat Israel keluar dari perbudakan di Mesir (Kel. 3:10), Petrus dipanggil untuk menjadi penjala manusia (Mat 4:19), dan menjadi gembala (1 Pet5:2), Paulus dipanggil untuk memberitakan kabar sucacita kepada bangsa-bangsa lain (Kis.9:15), dan masih banyak tokoh-tokoh Alkitab, yang dipanggil Tuhan untuk melakukan pekerjaan Tuhan. Dalam hal ini Rasul Petrus mengajar kepada kita, bahwa panggilan ini merupakan pengabdian diri untuk menjadi teladan. Dengan demikian tidak ada pikiran dan kalkulasi untung rugi. Tetapi pengabdian diri, dengan kesadaran bahwa pekerjaan ini adalah panggilanku! Di mana Allah memiliki grand plan (rencana agung), dalam hidup kita.  

Mengabdi

Lalu apa yang yang menjadi motivasi pelayanan setiap orang percaya yang disebut sebagai memenuhi panggilan TUHAN yang dijalaninya? Apa pula yang menjadi motivasi pelayanan kita untuk memenuhi panggilan kita?

TUHAN pasti memiliki misi agung dan rencana besar atas panggilan yang dialamatkan kepada kita di gereja setempat atau di organisasi. Sehingga kita harus keraya-raya, berjerih payah ikut serta melayani, supaya kita dapat ikut serta memberitakan kabar suka cita TUHAN kepada dunia. Panggilan ini walau bukan profesional, -dalam arti tidak mencari profit,- karena bersifat pelayanan, tetapi secara kualitas, kita harus tetap menghasilkan kinerja yang profesional.

Panggilan kita pertama adalah untuk berpikir dan melakukan pekerjaan Tuhan secara intensif serta brave and gantle (meminjam istilah Laksamana Yos Sudarso, ketika bertempur di laut Aru), berani dan gagah dalam menghadapi banyak tantangan dan hambatan. Tantangan dan hambatan ini datang dari mana saja, baik dari seberang jalan atau justru dari diri kita sendiri, berupa kecemasan, ketakutan dan keragu-raguan yang pernah kita alami. Banyak orang -termasuk kita- sering menghadapi masalah, tetapi masalah adalah kawah candradimuka bagi kedewasaan iman dan sikap. Panggilan TUHAN yang kita lakukan, baik secara individu maupun bersama-sama dalam satu komunitas, yang dapat membawa kemajuan bersama. Seperti Yusuf yang dipanggil untuk menjadi perdana menteri di Mesir, yang terlebih dulu harus menjalani masalah yang berat. Formulanya seperti Petrus yang semula seorang penakut menjadi pemberani, atau Paulus yang semula seorang pemburu jemaat, menjadi pemberita Injil yang handal dan setia. Perubahan pola pikir penakut menjadi pemberani, yang jahat menjadi baik. Karena adanya perubahan yang mendasar, adanya karya Roh Kudus. “Tetapi, kamu akan menerima kuasa, bilamana Roh Kudus turun atas kamu…” (Kis. 1:8a).  Inilah rangkaian perjalanan pelayanan dan proses, yang dijalani untuk memenuhi panggilan hidup dengan mengabdi sebagai seorang pelayan, pada setiap orang percaya.

MI Zulkarnain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *